MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI 1.2
Sabtu, 07 Maret 2020
Dosen Pembimbing : DONIE MARGAVIANTO, S.KOM., M.MSI.
==================================================================
Metode Pada Manajemen Layanan Sistem Informasi
Beberapa metode yang digunakan dalam Manajemen Layanan Sistem Informasi adalah :
- Total Quality Management (TQM)
Konsep Total Quality Management (TQM) di samping sebagai filofosi dan prinsip-prinsip manajemen, juga merupakan seperangkat strategi dan praktik yang dapat digunakan dalam meningkatkan daya saing dan kinerja perusahaan melalui pemenuhan kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Menurut Gasperzs (2005), bahwa di dalam pasar global yang berubah secara terus menerus, disamping pengiriman yang cepat (speed of delivery), kualitas produk juga menjadi salah satu elemen yang penting bagi perusahaan untuk dapat bersaing (competition). TQM merupakan pendekatan yang seharusnya dilakukan organisasi masa kini untuk memperbaiki kualitas produk, menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitas. Implementasi TQM juga berdampak positif terhadap biaya produksi dan pendapatan perusahaan.
Chase, et al. (2005), menegaskan bahwa TQM merupakan paradigma baru dalam menjalankan bisnis yang berupaya memaksimumkan daya saing organisasi melalui fokus pada kepuasan konsumen, keterlibatan seluruh karyawan, dan perbaikan secara berkesinambungan atas kualitas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan organisasi. TQM telah diaplikasikan secara luas oleh banyak perusahaan dengan tujuan meningkatkan kinerja seperti kualitas, produktivitas dan profitabilitas (Krajewski, et al., 2010).
Studi empiris yang menguji pengaruh praktik TQM terhadap kinerja perusahaan telah banyak dilakukan pada penelitian sebelumnya. Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa TQM sebagai salah satu pendekatan best practice untuk meningkatkan kinerja perusahaan (Terziovski dan Samson, 1999; Huarng dan Yao, 2002; Lakhal, et al., 2006; Prayogo dan Hong, 2008; Ramlawati, 2010). Penelitian lainnya menemukan bahwa praktik TQM tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan (Mohrman, et al., 1995; dan Sila, 2007).
- Six Sigma.
Konsep Six Sigma merupakan perbaikan secara terus menerus (continous improvement) untuk mengurangi cacat adalah dengan meminimalisasi variasi yang terjadi pada proses produksi. Hendradi (2006) menyatakan General Electric (GE) sebagai salah satu perusahaan yang sukses menerapkan Six Sigma menyatakan, "Six Sigma merupakan proses disiplin tinggi yang membantu dalam mengembangkan dan menghantarkan produk mendekati sempurna. Ide sentral dibelakang Six Sigma adalah jika perusahaan dapat mengukur berapa banyak cacat yang dimiliki dalam suatu proses, maka secara sistematis perusahaan dapat mengatasi bagaimana menekan dan menempatkan perusahaan dekat dengan zero-defect. Six Sigma telah mengubah DNA GE, dalam setiap tindakan pada setiap produk GE. Dalam prespektif metodologi, Six Sigma merupakan pendekatan menyeluruh untuk menyelesaikan masalah dan peningkatan proses melalui tahap DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Dalam penelitian Banuelas et al. (2005) tentang aplikasi Six Sigma untuk mengurangi cacat (defect) diperoleh hasil pengurangan cacat yang cukup signifikan antara sebelum pengunaan metode Six Sigma dan sesudah pengunaan metode Six Sigma yaitu pengurangan presentase cacat sebesar 9,37%.
- Business Process Management (BPM).
Business Process adalah
kumpulan aktivitas merancang untuk menghasilkan
output spesifik yang berorientasi pada pelanggan,
menekankan pada bagaimana pekerjaan
dilaksanakan dalam organisasi, akan berbeda dengan
fokus pada produk. Business Process Framework
berdasarkan business process reengineering menekankan pada kumpulan methods,
tools, teknik, pelajaran yang dapat diambil, dan
bantuan bagi tim proyek yang akan mengubah
bentuk suatu organisasi dari yang ada sekarang
mengarah pada masa depan. Business Process
Management (BPM) menekankan pada hubungan aplikasi bisnis
sedemikian sehingga workflow dapat di customized
dan diotomasi.
Pendekatan yang digunakan BPM adalah
pendekatan yang berorientasi pada layanan
(a service oriented approach), merupakan bagian
dari collaboration architecture, dikenal dengan Smart Enterprise
Suite (SES) Context. Business process diartikan sebagai rangkaian
aktivitas yang merepresentasikan pencapaian tujuan,
pendekatan terbaru mengarah pada otomasi, yaitu
suatu pendekatan proses yang dilengkapi dengan
penerapan teknologi.
- Capability Maturity Model Integration (CMMI).
Capability Maturity Model Integration (CMMI)
adalah sesuatu model pendekatan untuk menilaian
skala kemampuan dan kematangan sebuah organisai
perangkat lunak. Sejarah CMMI pada awal mula
dikenal sebagai Capability Maturity Model (CMM)
yang dibangun dan di kembangkan oleh Software
Enginnering Institute di Pittsburgh pada tahun 1987
(Konttinen, 2016).
CMMI memiliki aliur proses penilaian secara
berjenjang. Penilaian tersebut didasarkan kuisioner
dan dikembangkan secara khusus untuk mendapatkan
perangkat lunak yang dapat mendukung peningkatan
proses. CMMI adalah sebuah metode kematangan
(maturity model) yang dapat digunakan untuk
meningkatkan proses (process improvement) dalam
institusi. Tujuan dari digunakannya CMMI di dalam
institusi adalah untuk meningkatkan proses
pengembangan dan perbaikan produk piranti
perangkat lunak institusi tersebut (Syafitri, 2016).
Referensi:
- Aminah, S. dan Sastramihardja, H. S. (2007). KAJIAN PEMGEMBANGAN KERANGKA KERJA KOLABORASI EVALUASI DENGAN PENDEKATAN COLLABORATIVE BUSINESS PROCESS MANAGEMENT. 13-17. Institut Teknologi Bandung.
- Dewi, S. K. (2012). MINIMASI DEFECT PRODUK DENGAN KONSEP SIX SIGMA. Jurnal Teknik Industri, 13(1), 43-50. Universitas Muhammadiyah Malang.
- Munizu, M., Surachman, Salim, U., dan Solimum. (2012). Pengaruh Praktik Total Quality Management (TQM) terhadap Budaya Kualitas, Daya Saing dan Kinerja Perusahaan. Jurnal Aplikasi Manajemen, 10(3), 510-519. Universitas Hasanuddin Makassar.
- Umar, R., Riadi, I., dan Handoyo, E. (2019). Analisis Keamanan Sistem Informasi Berdasarkan Framework COBIT 5 Menggunakan Capability Maturity Model Integration (CMMI). Jurnal Sistem Informasi Bisnis, 09(1), 47-54. Universitas Ahmad Dahlan.


Comments
Post a Comment