ILMU BUDAYA DASAR 2.2

Rabu, 01 April 2020
Dosen Pembimbing :
IKA PUJI SAPUTRI








==================================================================



Hubungan Manusia Dan Penderitaan



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
       
Dalam kehidupan sehari-hari, biasanya kita selalu berusaha untuk memenuhi dan memuaskan  “keinginan” kita agar mencapai kebahagiaan. Akan tetapi, ketika kita melakukan hal ini maka kita  sedang melekatkan diri kita pada hal-hal yang sebenarnya tidak dapat dipercaya, tidak stabil,  berubah terus menerus dan tidak permanen. Sepanjang kita selalu berusaha untuk melekatkan  diri pada hal-hal ini, sebenarnya kita sedang melestarikan penderitaan. Oleh karena itu, jikalau  kita ingin melepaskan diri dari penderitaan, jalan menuju kepada hal itu adalah dengan cara  melepaskan, atau membiarkan segalanya berlalu. Ini adalah solusi yang radikal dan sekaligus  sangat  sederhana. Jikalau  “keinginan”  adalah  penyebab  penderitaan,  maka  jalan  penghentian  penderitaan adalah dengan cara meninggalkannya, melepaskannya atau membiarkannya pergi.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas :
1. Pengertian penderitaan dan penyebabnya.
2. Pengertian siksaan.
3. Pengertian beberapa jenis phobia dan penyebabnya.
4. Pengobatan phobia.

1.3 Tujuan
1. Memahami pengertian dari penderitaan.
2. Memahami penyebab dari penderitaan.
3. Memahami pengertian beberapa jenis phobia.
4. Memahami penyebab dari phobia.
5. Memahami pengobatan phobia.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penderitaan dan Penyebabnya
Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sanskerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat berupa penderitaan lahir atau batin atau lahir dan batin. Penderitaan termasuk realitas manusia dan dunia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat, ada yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidaknya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit kembali bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.

Apabila dikelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat dibagi sebagai berikut :
  • Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia
Penderitaan yang menimpa manusia karena perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Karena perbuatan buruk antara sesama manusia maka manusia lain menjadi derita. Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungannya juga menyebabkan penderitaan manusia. Kesadaran itu baru timbul setelah musibah yang membuat manusia menderita.
  • Penderitaan yang timbul akibat penyakit/siksaan/azab Tuhan
Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit/siksaan/azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal, & optimisme dapat merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu.

2.2 Siksaan
Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah penderitaan. Siksaan yang sifatnya psikis bisa berupa : kebimbangan, kesepian, ketakutan. Ketakutan yang berlebih-lebihan yang tidak pada tempatnya disebut phobia. Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan antara lain : claustrophobia dan agoraphobia, gamang, ketakutan, kesakitan, kegagalan. Para ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa phobia adalah suatu gejala dari suatu problematik psikologis yang dalam, yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukkan sebelum phobianya akan hilang. Sebaliknya ahli-ahli yang merawat tingkah laku percaya bahwa suatu phobia adalah problemnya dan tidak perlu menemukan sebab-sebabnya supaya mendapatkan perawatan dan pengobatan. Kebanyakan ahli setuju bahwa tekanan dan ketegangan disebabkan oleh karena si penderita hidup dalam keadaan ketakutan terus menerus, membuat keadaan si penderita sepuluh kali lebih parah.

2.3 Beberapa Jenis Phobia
  • Claustrophobia 
Phobia ini adalah yang paling dikenal dan paling biasa. Claustrophobia adalah rasa takut terhadap ruangan tertutup, sesuatu yang agak mudah dimengerti dan dengan mana kita dapat bersimpati.
  • Agoraphobia
Sedang agoraphobia lebih sukar diterangkan dan diperkirakan bahwa untuk phobia ini adalah rasa takut pada ruangan yang terbuka. Dalam bahasa Yunani kuno, agora berarti pertemuan umum dan agoraphobia secara lebih jauh dapat diterangkan sebagai ketakutan akan tempat umum. Penderita agoraphobia takut pergi dan berada di antara orang banyak. Tanpa perawatan dan pengobatan, penderita ini dapat menjadi begitu gugup sehingga mereka takut pergi keluar rumah mereka sendiri. Kebanyakan dan penderita-penderita ini terdiri dan wanita wanita dan mereka kadang-kadang terikat pada rumah-rumah mereka sampai bertahun-tahun. Meskipun mereka takut keluar sendiri dan menghadapi umum, mereka tidak suka diam di rumah sendirian; mereka merasa tertekan, tidak dapat tidur dan mempunyai banyak gejala-gejala lain. Terlalu mudah untuk mengatakan bahwa agoraphobia adalah penderita penyakit syaraf atau penyakit berbahaya. Bagi seorang yang tidak pernah merasakan panik yang tidak’ dapat diterangkan, memang kedengarannya mustahil. Bagaimana seorang agoraphobia menerangkan ketakutannya. Kita takut pada tiap keadaan yang tidak dapat dihindari. Kadang kadang kita bangun malam hari dalam keadaan takut tanpa ada sebab. 
  • Phobia Terbang
Banyak orang mengalami suatu getaran atau tekanan bila mereka memakai tali pengaman di dalam pesawat terbang, mereka harus diberi obat penenang sebelum mereka naik pesawat terbang atau mereka tidak mau terbang sama sekali.

2.4 Penyebab Phobia
Ahli-ahli medis mempunyai pendapat yang berbeda-beda, dan hanya penderita yang mempunyai teori tentang asal mula dan ketakutan mereka. Kebanyakan phobia dimulai dengan suatu shock emosional atau suatu tekanan pada waktu tertentu. Umumnya ada dua aliran tentang penyebab phobia. Ahli-ahli ilmu jiwa cenderung berpendapat bahwa suatu phobia adalah suatu gejala dan suatu problematik psikologis yang dalam yang harus ditemukan, dihadapi, dan ditaklukkan. Kebanyakan ahli-ahli setuju bahwa tekanan dan sindiran. Rasa sakit banyak hikmahnya, antara lain dapat mendekatkan diri penderita kepada Tuhan, dapat menimbulkan rasa kasihan terhadap penderita dapat membuka rasa keprihatinan manusia, rasa sosial, dermawan, dan sebagainya. Tiap rasa sakit atau penyakit ada obatnya. Hanya tergantung kepada penderita atau keluarga penderita, apakah ada usaha atau tidak. Bagi yang berusaha sungguh-sungguh dengan disertai mendekatkan diri kepada Tuhan dan pasrah kepada-Nya maka Tuhan akan mengabulkan doa dan usahanya.


2.5 Pengobatan Phobia
Penderita phobia dianggap sebagai kasus tersendiri maka pengobatannya juga masih dicarikan. Kesukaran pertama adalah menentukan diagnosanya. Beberapa dokter memberikan obat penenang yang dapat menolong, meskipun banyak penderita merasa bahwa obat penenang hanya dapat meredakan gejala tanpa menyembuhkan penyakitnya. Psikoanalisis – psikoanalisis berkonsentrasi pada penemuan sebab Mana phobia itu dan menolong si penderita supaya mengerti dan berkompromi dengan dorongan-dorongan sex atau dorongan- dorongan yang menghancurkan daripada melarikan diri dan penyakit itu. Suatu cara pengobatan yang dipergunakan. Si penderita didorong untuk mengalami ketakutan yang semaksimal mungkin, maka gejala ketakutan akan hilang sesudah penderita mengalami secara dalam. Tetapi tingkah laku adalah cara lain yang tetap dipakai dengan sukses. Prinsipnya adalah rileks. Si penderita diajar untuk dapat rileks sambil memandang obyek atau keadaan yang ditakuti.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Manusia akan lebih menghargai kebahagiaan kalau manusia itu pernah merasakan penderitaan, karena ia merasakan bagaimana rasanya menderita dan ternyata  suatu penderitaan bukanlah sebuah hambatan untuk meraih kesuksesan atau cita-cita,  banyak kita temukan atau jumpai ternyata seseorang yang menderita ternyata mempunyai semangat / kekuatan  baru dalam menjalani hidupnya (tahan banting), tergantung bagaimana seseorang tersebut mengambil hikmah atau pelajaran dari segala bentuk penderitaan yang dialaminya, contohnya : semula ia adalah seseorang yang hidup sangat sederhana, yang setiap waktu biaya hidupnya hanya dari mengumpulkan barang-barang bekas, tapi berkat keuletan dan semangatnya dalam menjalani hidup ternyata dilain waktu hidupnya berubah, sekarang ia menjadi bos atau juragan, dan berubahlah hidupnya sekarang, yang dahulunya penuh dengan kekurangan dan penderitaan menjadi serba ada, dari contoh penderitaan di atas, ternyata sebuah penderitaan itu tidak selamanya buruk, tergantung dari segi dan apa yang dapat kita ambil dari suatu penderitaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

1. Bismark R. dan Pasaribu F. (2013). MANUSIA DAN PENDERITAAN. 186-214.
2. Prayogo A. K. (2015). Manusia dan Penderitaan. Diambil dari: https://www.kompasiana.com/adhbi/552877116ea834a0478b45aa/manusia-dan-penderitaan. (06 April 2020).

Comments

Popular posts from this blog

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI 2.2

Forum VClass Pertemuan 5

INOVASI SISTEM INFORMASI DAN NEW TEKNOLOGI 8.1