ILMU BUDAYA DASAR 3.2

Rabu, 29 April 2020
Dosen Pembimbing :
IKA PUJI SAPUTRI








==================================================================



Manusia Dan Harapan Mengenai Pengalaman Pribadi



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
        Setiap manusia mempunyai harapan yang berbeda-beda. Manusia tanpa adanya harapan berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang hampir meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan itu sendiri. Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi, sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan kita.

        Harapan berasal dan kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Harapan bukan hanya terucap dari mulut saja melain dan dengan usaha dan doa, tanpa usaha dan doa pasti harapan terbuang dengan sia-sia. Harapan juga, harus dibarengi oleh rasa optimis karena optimis adalah faktor mengharapkan sesuatu yang terbaik dari situasi tertentu.

        Harapan tidak bisa mengganti tindakan. Kerjakan apa yang harus dikerjakan. Harapkan yang terbaik dan kerjakan apa saja yang memungkinkan harapan itu terwujud. Harapan juga harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Allah SWT. Agar harapan bisa terwujud, maka manusia harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan diikuti dengan berdoa kepada Allah SWT. Hal ini disebabkan karena harapan dan kepercayaan tidak dapat dipisahkan. Harapan dan kepercayaan merupakan bagian dari hidup manusia selama di dunia karena setiap manusia mempunyai harapan dan kepercayaan kepada Allah SWT.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang akan dibahas :
        1. Apa pengertian dari harapan?
        2. Apa persamaan harapan dengan cita-cita?
        3. Apa hubungan manusia dengan harapan?
        4. Apa penyebab manusia memiliki harapan?

1.3 Tujuan
        Agar dapat mengerti pentingnya usaha dalam mewujudkan suatu harapan, karena setiap usaha tidak akan pernah menyia-nyiakan hasilnya. Serta agar selalu pantang menyerah dalam menggapai suatu harapan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Harapan
        Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak namun diyakini bahkan terkadang dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Namun ada kalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berusaha dan berdoa.

        Setiap orang mempunyai berbagai cara untuk memenuhi harapannya atau keinginannya, baik dengan cara yang dibenarkan maupun dengan cara yang dilarang oleh norma-norma agama dan hukum. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang melakukan pelanggaran dalam usahanya mencapai apa yang di harapannya, misalnya : faktor lingkungan sosial, ekonomi, pendidikan, tidak adanya landasan iman yang kuat, kurang rasa percaya diri, dan kurang pendidikan mental. Dari semua itu dapat berakibat buruk pada diri sendiri. Beberapa pendapat menyatakan bahwa esensi harapan berbeda dengan berpikir positif yang merupakan salah satu cara proses sistematis dalam psikolog untuk menangkal pikiran negatif atau berpikir pesimis.

        Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, Misalnya seseorang mengharapkan nilai A dalam ujian yang akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak pernah hadir kuliah. Ia menghadapi ujian dengan santai. Bagaimana seseorang memperoleh nilai A. Lulus pun mungkin tidak. Harapan pun harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa, agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh.

2.2 Persamaan Harapan dengan Cita - Cita

        Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan yang maha esa. Bila dibandingkan dengan cita-cita, maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk, sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi-tingginya. Antara harapan dan cita-cita terdapat persamaan yaitu : keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud, pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.

Contoh Harapan:

        Berdasarkan pengalaman dulu. Teringat di awal tahun duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), saat sedang melihat sebuah band bermain musik di atas panggung dengan penuh semangat ditambah dengan sorakan kegembiraan dan keceriaan dari banyaknya penonton membuatku ingin sekali bisa bermain musik di atas panggung seperti itu. Di saat itulah, akhirnya aku memulainya dengan usaha mempelajari sebuah alat musik. Alat musik pertama yang aku pelajari yaitu gitar. Melihat seorang gitaris memainkan melodi membuat aku tertarik untuk mempelajarinya. Selama satu tahun aku belajar gitar, akhirnya saat masuk kelas 2 aku mulai mendaftar sebagai anggota ekstrakurikuler musik di sekolahku. Satu-persatu anggota yang mendaftar dites kemampuannya, aku merasa gugup karena semuanya bermain dengan sempurna. Namun aku tetap berusaha tenang karena impianku yaitu bermain musik dalam sebuah band di atas panggung serta membuat semua orang bahagia dan ceria menikmati musik. Setelah dites akhirnya aku diterima dan diajak anggota band menjadi gitarisnya.

        Beberapa bulan menjadi anggota kemudian, setelah semua band sekolah selesai memanggung, tiba waktunya diriku dengan anggota band untuk bermain di atas panggung. Saat sebelum naik ke panggung, aku selalu berharap semua penonton merasa bahagia dan menikmati musiknya. Namun setelah selesai persiapan alat dan mulai memainkan musiknya, aku lupa dengan chord gitar dari lagu tersebut. Kemudian para anggota dengan serentak berhenti memainkan alat musik. Sorak kekecewaan semua penonton pun terdengar keras. Saat itulah aku merasa harapanku gagal dan ingin rasanya untuk meninggalkan panggung karena rasa yang amat sangat malu. Tiba-tiba saat sedang ramainya sorakan kekecewaan, pemain drum mulai memainkan solo-nya. Sorakan penonton pun mulai sedikit mereda dan penyanyi mulai tetap menyemangati semua penonton sambil memberikan kode kepadaku untuk berimprovisasi. Akhirnya aku mulai memainkan gitarku sambil mengikuti irama drum dan mengimprovisasi chord dari lagu yang dimainkan. Setelah selesai memainkan musiknya, semua penonton bersorak gembira dengan penuh semangat. Aku pun mulai merasa sangat bahagia dan senang saat itu juga. Tidak disangka, harapan dan impianku tercapai dan mewujudkan hasil yang lebih dari kuduga setelah melewati banyaknya usaha dan rasa kekecewaan serta malu yang amat sangat mendalam.

        Maka dari itulah, usaha tidak akan pernah mengecewakan hasilnya. Walaupun kegagalan pasti akan terjadi, tetapi harus selalu berusaha dan pantang menyerah untuk menciptakan suatu harapan serta impian.

2.3 Hubungan Manusia dengan Harapan
        Harapan dalam kehidupan manusia merupakan cita-cita, keinginan, penantian, kerinduan supaya sesuatu itu terjadi. Dalam menantikan adanya sesuatu yang terjadi dan diharapkan, manusia harus melibatkan manusia lain atau kekuatan lain di luar dirinya supaya sesuatu terjadi atau terwujud.

        Menurut macamnya ada harapan yang optimis dan harapan pesimistis (tipis harapan). Harapan yang optimis artinya sesuatu yang akan terjadi itu sudah memberikan tanda-tanda yang dapat dianalisis secara rasional, bahwa sesuatu yang akan terjadi akan muncul pada saatnya. Dan harapan yang pesimistis ada tanda-tanda rasional tidak akan terjadi.

        Harapan itu ada karena manusia hidup. Manusia hidup penuh dengan keinginannya atau maunya. Setiap manusia memiliki harapan yang berbeda-beda, orang yang berpikir luas, harapannya pun akan luas. Begitu pun sebaliknya, orang yang berpikir sempit maka harapannya juga akan sempit.

        Harapan itu bersifat manusiawi dan dimiliki semua orang. Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu di wujudkan hal-hal sebagai berikut:
  • Harapan apa yang baik 
  • Bagaimana cara mencapai harapan itu 
  • Bagaimana bila harapan tidak tercapai
        Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya harapan manusia untuk hidup di kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat, dan selalu berharap bahwa hari esok lebih baik dari pada hari ini. Namun kita sebagai manusia harus sadar bahwa harapan tidak selamanya menjadi kenyataan dan terwujud.

2.4 Penyebab Manusia Memiliki Harapan
        Ada dua hal yang mendorong manusia hidup bergaul dengan manusia lain, yaitu : dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.

1. Dorongan Kodrat
        Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Allah SWT. Misalnya : menangis, bergembira, berpikir, bercinta, berjalan, berkata, dan mempunyai keturunan. Setiap diri manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua dan dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan dan harapan.

        Dalam diri manusia masing-masing sudah terjelma sifat, kodrat pembawaan dan kemampuan untuk hidup bergaul, hidup bermasyarakat atau hidup bersama dengan manusia lain. Dengan kodrat ini manusia dapat mempunyai harapan.

2. Dorongan Kebutuhan Hidup
        Sudah menjadi kodrat bahwa manusia mempunyai bermacam-macam kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besarnya dapat dibedakan atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmani, misalnya makan, minum, pakaian, dan rumah. Sedangkan kebutuhan rohani, misalnya kebahagiaan, kepuasan, keberhasilan, hiburan dan ketenangan.

        Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia harus bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan karena kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikir. Dan dengan adanya dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan, karena pada hakikatnya harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
        Harapan merupakan suatu kondisi di mana seseorang akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuan semaksimal mungkin. Setiap individu memiliki harapannya masing-masing terhadap kelangsungan hidup mereka. Usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu harapan sangat beragam. Misalnya bekerja keras, memohon dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Ada berbagai macam harapan yang ada, namun tidak semua harapan dapat tercapai dengan mudah. Butuh kerja keras untuk mencapai harapan tersebut.

        Namun adakalanya harapan tertumpu pada seseorang atau sesuatu. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berdoa atau berusaha. Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

1. Budiman, A. (2017). Manusia Dan Harapan. Diambil dari: https://adambudiman.wordpress.com/2017/05/20/makalah-ilmu-budaya-dasar-tentang-manusia-dan-harapan/. (15 Juni 2020).
2. Dinda, N., Mufida, A., Ramadhani, I., dan Shinta, I. (2017). Manusia Dan Harapan. [Makalah]. 01-09. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Yogyakarta.
3. Fadillah, Y.A. (2013). Manusia Dan Harapan. Diambil dari: https://yogiearieffadillah.wordpress.com/2013/06/23/manusia-dan-harapan/. (15 Juni 2020).

Comments

Popular posts from this blog

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI 2.2

Forum VClass Pertemuan 5

INOVASI SISTEM INFORMASI DAN NEW TEKNOLOGI 8.1