Forum VClass Pertemuan 3
Sabtu, 05 Desember 2020
Dosen Pembimbing : DONIE MARGAVIANTO, S.KOM., M.MSI.
==================================================================
Langkah - Langkah dan Format Penulisan Skenario
Berikut langkah-langkah dalam penulisan skenario:
- Menentukan Tema Film/Cerita
Tema adalah unsur yang penting dalam suatu cerita, baik dalam bentuk film, novel, cerpen maupun manga. Salah satu fungsi tema adalah sebagai sebuah masukan untuk menentukan ide terhadap unsur-unsur lain dalam cerita seperti plot, tokoh dan latar. Dalam menentukan tema film, seorang penulis buku,novel dan cerpen dapat menentukan tema melalui inti pembahasan dalam tulisannya. Seperti Raditya Dika, yang sering kali membuat film berdasarkan kisah-kisah utama yang diadaptasi dari novelnya seperti Kambing Jantan,Cinta Brontosaurus, dan Manusia Setengah Salmon.
Seseorang yang suka menulis novel dan cerpen memang lebih mudah untuk merumuskan tema yang akan dia angkat menjadi film, karena sebelumnya sudah memiliki sumber cerita sendiri. Namun untuk yang tidak suka menulis, bukan berarti kalian tidak bisa jadi penulis skenario, karena membangun sebuah cerita tidak hanya menggunakan diksi semata tetapi juga imajinasi yang kuat.
- Membuat premis dan logline sebagai intisari cerita melalui kata-kata singkat
Premis dan logline dapat dikatakan sebagai intisari cerita yang menggambarkan keseluruhan cerita secara singkat. Dalam menentukan premis dan logline biasanya dirumuskan dengan (Karakter + punya tujuan + memiliki halangan). Dalam penulisan premis, keseluruhan cerita digambarkan dalam satu kalimat saja. Namun dalam logline ulasan cerita berisi lebih panjang dan dapat mencapai satu paragraf. Premis dan logline juga dapat berfungsi sebagai acuan cerita, yang dapat membatasi penulis agar pada saat memasuki tahap penyusunan plot, agar tidak keluar dari fokus cerita.
- Menyusun alur cerita/plot yang disesuaikan dengan durasi film
Tahap ini adalah salah satu tahap yang sulit dalam fase Pra produksi dan dapat memakan waktu sangat lama. Pada proses ini, penyusunan plot dilakukan dengan cara penyesuaian terhadap jenis film yang akan dibuat. Dalam produksi film panjang maupun film pendek, biasanya alur cerita akan dibuat berdasarkan tiga babak cerita yang terdiri dari perkenalan karakter, petualangan karakter dan kesimpulan.
Dalam satu susunan plot, cerita akan dibagi menjadi beberapa sequence. Dimana pada babak petualangan memiliki sequence yang lebih panjang dari babak lainnya, lalu pada babak perkenalan dan babak kesimpulan biasanya memiliki panjang waktu yang sama. Jadi jika ada delapan sequence dalam satu alur cerita, babak perkenalan karakter dan kesimpulan memiliki dua sequence, dan babak petualangan empat sequence. Tahap selanjutnya dilanjutkan dengan memberikan beat atau isi cerita yang berisi mengenai kegiatan karakter yang nantinya akan tergambar menjadi sebuah cerita yang mengisi setiap sequence dalam alur cerita.
- Membuat list adegan sebagai isi cerita dari sequence pada alur yang telah disusun
Langkah keempat ini sebenarnya masih menjadi salah satu bagian dalam penyusunan plot cerita. Detak cerita (beat) yang akan mengisi sequence dari alur yang telah disusun, lebih baik dicatat pada notes kertas atau digital, agar dapat memudahkan penulisan penyusunan plot dan tidak hilang, serta bisa menjadi rujukan kembali untuk mengisi cerita pada naskah.
- Menulis script yang berisi keseluruhan cerita film sampai menjadi final draft
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, biasanya naskah dialog hanya di tulis dengan format nama dan ucapan karakter saja. Namun dalam naskah film panjang maupun pendek format penulisan naskah akan menjadi lebih kompleks. Naskah akan terdiri dari keterangan waktu, tempat secara rinci, kondisi karakter, bahkan jenis shoot yang akan dilakukan saat proses produksi. Jadi seorang script writer yang handal tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis yang baik. Imajinasi, pemahaman teknik pengambilan gambar, dan kondisi lapangan juga sangat penting dimiliki seorang penulis naskah yang baik.
Oleh karena itu ,tahap akhir dalam fase penulisan skenario ini juga bukan perkara mudah untuk diselesaikan, karena naskah harus sesuai dengan apa yang diinginkan oleh produser. Penulis naskah juga harus memiliki kesabaran dan keteguhan hati yang kuat, karena revisi draft-perdraft naskah sudah pasti menjadi sebuah hal yang akan dirasakan pahitnya dalam pekerjaan, demi meraih manisnya final draft yang menandakan sudah diperbolehkanya naskah untuk di produksi menjadi sebuah film.
Adapun beberapa format standar yang sering digunakan dalam penulisan naskah skenario diantaranya :
- Ukuran Kertas
Ukuran kertas yang biasa digunakan dalam penulisan naskah skenario adalah ukuran 8,5″ x 11″(Letter) dengan Total panjang tulisan maksimal 60 baris/lembar. Adapun Scene/shot numbers memiliki margin kiri 1,0″ dan margin kanan 7,4″, Margin atas dan bawah masing-masing 0.5″
- Font
Font yang digunakan dalam penulisan naskah skenario adalah Courier (bukan Courier New) atau Prestige Pica dengan ukuran 12 point. Kedua font tersebut merupakan jenis fixed-pitch fontyang menghasilkan sepuluh (10) karakter per inci horisontal dan enam (6) baris per inci vertikal.
- Format Scene Headings
Scene Headings (Shot headings atau disebut dengan Slug Line) memiliki jarak 1,7″ dari kiri dan 1,1″ dari kanan. Scene heading ini berisi nomor urutan scene, penggunaan ruang interior (INT) dan eksterior(EXT), lokasi adegan, dan waktu adegan. Scene heading biasanya menggunakan hurup kapital, Contoh :
- INT. RUMAH PAK LURAH – MALAM
- EXT. JALAN RAYA – SIANG
- Nama Karakter
Nama karakter dalam penulisan naskah skenario menggunakan huruf besar, memiliki margin kiri 4,1″ tepat berada dibawah Scene Headings.
- Format Dialog
Dialog memiliki margin kiri 2,7″ dan margin kanan 2,4″, berada tepat dibawah nama tokoh/karakter.
Jika terjadi sebuah dialog panjang di akhir halaman namun ruang untuk tulisan kurang, maka perlu menambahkan teks (MORE) di akhir naskah dengan menggunakan margin kiri 4,1″. Dialog dapat dilanjutkan di halaman berikutnya dengan menambahkan teks (CONT’D) setelah nama karakter.
Jika sebuah scene/adegan dan dialog berlanjut ke halaman berikutnya, maka bagian akhir teks halaman sebelah kanan diberi tulisan (CONTINUED) dengan diberi tanda kurung dan jeda baris kosong diatasnya. Untuk halaman berikutnya juga diberi tulisan CONTINUED di sebelah kiri tanpa tanda kurung.
- Parenthetical
Parenthetical adalah pentunjuk aksi atau ekspresi yang harus dilakukan oleh karakter dalam mengucapkan dialog. Misalnya emosi, sedih, menangis, tersenyum, tertawa, dan sebagainya. Parenthetical direction dalam dialog memiliki margin kiri 3,4″ dan margin kanan 3,1″.
- Scene Transisi
Scene Transisi dalam penulisan naskah skenario merupakan peralihan dari scene yang satu ke scene berikutnya, teks yang digunakan seperti CUT TO, FADE OUT dll. Scene Transisi memiliki margin kiri 6,0″, ditulis dengan huruf besar dan diletakkan di sebelah kanan, kecuali FADE IN yang ditulis di sebelah kiri. Scene Transisi didahului dengan sebaris kosong dan diikuti dengan dua baris kosong.
Referensi:
- Acehdocumentary. (2015). Format Standar Penulisan Naskah Skenario. Diambil dari: http://acehdocumentary.com/berita/format-standar-penulisan-naskah-skenario/. (01 Desember 2020).


Comments
Post a Comment